Sekilas Catatan Abukosim Djayadiningrat
Pasuka Sekutu sudah
mendarat di Palembang pada tanggal 12
Oktober 1945 dibawah pimpinan Letnan Kolonel Carmichael, dengan tugas akan mengambil alih wilayah
Palembang dari militer Jepang. Selain
itu mereka juga bertugas mengembalikan tentara Jepang ke negeri asalnya dan
melepaskan para tawanan. Setelah
beberapa minggu di Palembang, Pasukan sekutu menyerahkan
kedudukannya kepada militer Belanda.
Tentu saja melihat keberadaan tentara Berada di kota Palembang menjadi tanda tanya besar bagi banyak orang. Apakah
Belanda yang pernah menjajah Indonesia lebih dari tiga setengah abad masih
berambisi ingin menguasai Indonesia kembali?
Di pertengahan bulan september 1946
Abukosim Djayadiningrat yang
pada saat itu baru saja kembali dari daerah pendopo dalam tugas memberikan
latihan dasar teknik kemiliteran pada 65 pemuda. Selesai melatih selama tiga
bulan lalu ke 65 pemuda tersebut dikirim
ke kota Palembang untuk mengikuti latihan lanjutan. Mereka akan disiapkan untuk pengamanan di wilayah Pendopo dan
sekitarnya.
Pada tanggal 4 Oktober
1946 Abukosim ditunjuk mengikuti Latihan Kader Polisi Tentara di Pebem Tangga
Buntung dan pelatihnya adalah Kapten
Ryacudu. Tetapi pada tanggal 25 Desember 1946 seluruh peserta latihan
mendadak dihentikan dengan alasan bahwa kondisi Kota Palembang dalam keadaan
gentir, dan seluruh yang tergabung dalam kesatuan TRI diperintahkan berkumpul
ke kota Palembang.
Sampai di kota
Palembang, Abukosim segera kembali ke
asrama Polisi Tentara di 15 Ilir. Dan mendapat perintah dari Lettu R. Winarto untuk segera menuju
Masjid Agung. di sekitar Mesjid Agung puluhan anggota TRI
dan dibantu pemuda-pemuda pejuang bersenjata sudah siap siaga. Memang di
akhir bulan Desember 1946 kota Palembang dalam kondisi panas, sudah berapa
orang jadi korban tentara Belanda. Salah satunya Nungcik ditembak karena melewati pos tentara Belanda
di Benteng. Kejadian itu menimbulkan kemarahan beberapa anggota TRI dan
kelompok Pemuda pejuang di kota Palembang,
ditambah lagi tentara Belanda kompoi dengan mobil jeep
sambil melepaskan tembakan beberapa kali ke udara, dan sengaja melintas di
garis dermargasi yang telah disepakati. Akhirnya terjadilah tembak menembak
yang berlangsung cukup lama, dan termbak menembak tersebut terhenti setelah Pertinggi
Meliter TRI dan Petinggi Meliter Belanda melakukan perundingan. Tetapi penghentian
tembak-mnembak tidaklah berlangsung lama, karena tentara Belanda kembali
melanggar kesepakatan dengan menembak Letnan Satu A. Rivai yang tengah melintas
dengan sepeda motornya, beruntung Letnan Satu A. Rivai masih dapat
menyelamatkan diri meskipun dalam kondisi terluka.
Pada tanggal 31 Desember 1946, lagi-lagi
Tentara Belanda memancing kemarahan anggota TRI, mereka kompoi mengendarai mobil melintas di
jalan Talang Semu, jalan Jenderal Sudirman, sambil melepaskan tembakan berulang
kali. Melihat perbuatan yang kurang terpuji itu, anggota TRI jadi berubah siap menantang perang, dan terjadilah baku tembak yang kembali menegangkan
kota Palembang. Bahkan baku tembak tersebut dikabarkan semakin meluas di beberapa
tempat markas pertahanan tentara Belanda.
Semua anggota TRI bergerak
cepat melakukan pengepungan dan serangan ke markas dan petahanan tentara
Belanda. Serangan di pokuskan ke arah Rumah Sakit Charitas, dan sebagian lagi melakukan serangan ke arah
Benteng. Serangan ke arah Benteng diupayakan
TRI mencegah agar Pasukan tentara Belanda tidak melaju ke arah Rumah Sakit
Charitas.
Merasa situasi kurang
menguntungkan, dimana pada saat itu tentara Belanda dalam posisi terkepung dan diserang dari beberapa lini
oleh pasukan TRI. Akhirnya Tentara Belanda mengadakan pertemuan dengan Panglima
Divisi II Kolonel Hasan Kasim, dari hasil pertemuan itu disetujui untuk
melaksanakank Ceass Fire ( penghentian tembak menembak).
Pasukan Belanda tidak
pernah membayangkan kalau TRI datang dengan jumlah yang besar. Padahal saat
itu, penyerangan bukan hanya TRI saja tetapi dibantu para laskar dan
pemuda-pemuda pejuang yang siap mati dalam mempertahankan kemerdekaan tanah
air. Walaupun senjata ditangan sangat
terbatas dan hasil rampasan dari tentara Jepang, tetapi mereka begitu semangat
tanpa takut sedikitpun.
Dengan kejadian-kejadian
yang setiap hari selalu memakan jatuh korban membuat situasi kota Palembang jadi gentir,
penghentian tembak menembak atau gencatan senjata yang selalu disepakati oleh
kedua belah pihak, tidak akan menjadi jaminan
Meliter Belanda akan mematuhinya. Oleh
sebab itu Petinggi Meliter dan Pejabat Sipil kota Palembang mengadakan
pertemuan membahas atas provokasi-provokasi yang dilakuakn oleh Pasukan
Belanda, dari hasil pertemuan tersebut maka di perintahkan Semua Pasukan TRI bertindak membalas serangan-serangan tentara
Belanda bahkan semua pertahananya diperintahkan harus digempur habis-habisan. .
Menjelang sore hari Rabbu
tanggal 1 Januari 1947, mulai meletuslah pertempuran lima hari lima malam. letusan
terdengar bersahut-sahutan disusul dentuman senjata berat terdengar mencekam di Jantung Kota Palembang. berubah menjadi pertempuran yang mendebarkan
warga sekitar. Begitu senjata diletuskan puluhan Pasukan TRI berhamburan
keluar dari beberapa tempat persembunyian, tanpa di komando lagi mereka
bergerak serentak mengambil posisi masing-masing. Ada
berlari mengambil posisi di sekitar mesjid Agung, dan posisi ke Rumah Sakit Charitas. Sedangkan tentara Belanda keluar dari markas
pertahanannya di Benteng, dan bergerak maju
akan menyerang pasukan TRI yang berada di sekitar Mesjid Agung, dengan diperkuat kendaraan panser dan tank-nya,
sekali-sekali terntara Belanda melemparkan mortil “8” tetapi diantara mortil
tersebut terlihat tidak meledak karena jatuh di genangan air.
Sedangkan di sekitar Rumah sakit
Charitas Pasukan Belanda mendapatakan
serangan yang hebat dari Pasukan TRI yang dipimpin Mayor Dani Effendi. Sekalipun di Rumah Sakit Charitas Pasukan TRI agak sulit untuk bergerak maju,
sebab merupakan basis yang strategis apalagi berada diatas bukit .
Sedangkan di wilayah sekitar Mesjid Agung pasukan TRI di hari pertempuran pertama hanya bisa bertahan dan menyerang. Tembak menembak semakin gencar hingga pukul 20.00 malam. Tetapi Pasukan TRI dibantu laskar dan pemuda pejuang terus melakukan tembakan balasan secara gigih, sehingga penggerakan Pasukan Belanda untuk mengambil alih Mesjid Agung gagal, dan TRI tetap mempertahankan Mesjid Agung. Sedangkan Kantor Pos dan kantor Telkom menjelang sore berhasil dikuasai oleh Pasukan Belanda dan sudah menjadi pertahanannya. Dan Pasukan TRI yang bertahan di kantor Pos dan Kantor Telkom bergerak mundur dan mengambil posisi di sepanjang jalan Kebon Duku dan jalan kepandean.
Sedangkan di wilayah sekitar Mesjid Agung pasukan TRI di hari pertempuran pertama hanya bisa bertahan dan menyerang. Tembak menembak semakin gencar hingga pukul 20.00 malam. Tetapi Pasukan TRI dibantu laskar dan pemuda pejuang terus melakukan tembakan balasan secara gigih, sehingga penggerakan Pasukan Belanda untuk mengambil alih Mesjid Agung gagal, dan TRI tetap mempertahankan Mesjid Agung. Sedangkan Kantor Pos dan kantor Telkom menjelang sore berhasil dikuasai oleh Pasukan Belanda dan sudah menjadi pertahanannya. Dan Pasukan TRI yang bertahan di kantor Pos dan Kantor Telkom bergerak mundur dan mengambil posisi di sepanjang jalan Kebon Duku dan jalan kepandean.
Dalam lembaran buku yang
ditulis Abukosim Djayadiningrat, pada saat pertempuran hari pertama Beliau
berada di posisi sekitar Masjid Agung, dan pertempuran hari pertama sudah
banyak jatuh korban, baik dari pihak TRI, laskar, Pemuda pejuang bersenjata maupun
dari pihak tentara Belanda. Salah satunya
angota TRI adalah Kopral Sadikun dari Divisi Polisi Tentara yang menjadi korban
dalam pertempuran di hari pertama.
Pada hari Kedua Pertempuran Lima Hari Lima Malam, tepat
pukul 12.00 siang Abukosim bersama
anggotanya bergegas meninggalkan mesjid Agung, guna membantu Pasukan TRI yang dipimpin
Mayor Dani Effendi yang sudah sejak
subuh menyerang Markas Pasukan Belanda di Rumah Sakit Charitas. Pukul 13.00 siang Abukosim bergabung
dengan pasukan TRI yang akan mencoba masuk ke gudang senjata. Beruntung karena mendapat bantuan dari
tentara Jepang yang sudah menyatu dengan TRI, usaha masuk ke gudang sedikit
terhambat karena tentara Belanda mencoba menghalangi, tetapi salah satu anggota
TRI langsung menembak mati, dan akhirnya puluhan senjata berhasil diambil dan langsung dibagi-bagikan
ke anggota TRI. Dan Abukosim mendapat
bagian lima pucuk senjata lengkap dengan pelurunya serta satu buah pisau
sangkur.
Dihari pertempuran ke
tiga, Baku tembak Pasukan TRI dan Pasukan Belanda semakin menjadi. Letusan senjata api terdengar
bersahut-sahutan disusul suara dentuman senjata berat terdengar mencekam
semakin membuat warga sekitar jadi kawatir,
sementara korban banyak berjatuhan. Dari Divsi Polisi Tentara Kopral
Damiri dan Saidi mengalami luka, tetapi langsung dibawa ke rumah Sakit Dempo. Setelah mengurus korban ke rumah sakit, Abukosim mendapat perintah Komandan
Polisi Tentara Resimen I Divisi II Lettu
R. Winarto ke arah gedung kantor Bursumi untuk membantu TRI yang berada di lokasi, guna mencegah supaya tentara Belanda tidak mengarah
ke Pasar kuto. Setelah sampai dilokasi dekat jalan menuju ke Pasar Kuto Abukosim
dan anggotanya bersembunyi di dekat sungai gedung kantor Bursumi menunggu
kedatangan Tentara Belanda. Tidak lama
kemudian munculah tentara Belanda, dan terjadilah Tembak menembak, dan tentara
Belanda berhasil dipaksa mundur. Tetapi tembak menembak itu memakan korban lima orang rakyat biasa yang
kebetulan terkena peluru nyasar, dan satunya Sersan Umar Hasan dari Polisi Tentara, tetapi Sersan Umar Hasan selamat
karena hanya lengan kanannya yang luka dan langsung dibawa ke rumah bidan yang
ada di 13 ilir.
Memasuki hari ke-empat
Pertempuran Lima Hari Lima Malalm, baku
tembak TRI terus terjadi bahkan semakin hebat dari hari
sebelumnya. Bantuan TKR dan pemuda pejuang yang datang dari luar daerah semakin
memperkuat TRI dalam melakukan peryerangan, sehingga semakin melemahkan
pertahanan tentara Belanda, baik pertahanan tentara Belanda di Benteng maupun
di markas pertahanan di rumah Sakit Charitas tempat Letkol Van Back.
Pada pertempuran hari ke
empat, serangan Tentara Belanda sudah terlihat melemah, berbeda dengan
hari-hari sebelumnya. Serangannya tidak
begitu membabi buta, sepertinya tentara Belanda yang bertahan di Rumah Sakit Charitas
sepertinya mulai mengalami masalah dengan amunisi dan logistik akibat serangan yang sering
dilakukannya secara membabi buta.
Karena kondisi rumah
sakit Charitas sudah terkepung, maka tentara belanda yang berada di Benteng berupaya
membantu pasukan yang berada di rumah sakit Caharitas, mereka keluar dengan
kendaraan lapis baja dan beriringan dengan beberapa kendaraan truk berisi puluhan tentara Belanda. Mereka melaju
sembari melepaskan tembakan secara membabi buta.
Pasukan TRI dan pemuda
pejuang bersenjata segera melakukan pencegahan, bahkan Pasukan TRI bergerak cepat melakukan tembakan ke arah tentara
Belanda dengan jarak dekat, dan sebagian lagi melemparkan bom melotov, lemparan botol tersebut tepat mengarah ke dalam
mobil lapis baja. Akibatnya, beberapa
orang tentara belanda melompat menyelamatkan diri, lalu beberapa detik kemudian terlihat api membesar
dan membakar kendaran milik tentara Belanda, dan disusul suara ledakan
terdengar keras.
Pasukan Belanda masih
terus mencoba menuju rumah sakit Charitas, tetapi lagi-lagi TRI dan seluruh badan pejuang kita yang
berada di posisi depan telah bersatu padu melakukan pencegahan dengan memasang beberapa potong kayu dan
kawat berduri ditengah jalan. Seluruh pejuang kita tidak memberikan kesempatan pasukan Belanda untuk keluar dari sarangnya. Karena jalan arah menujun rumah sakit Charitas
sudah tidak bisa dilalui dan dibeberapa tempat sudah dikepung pasukan TRI, akhirnya
tentara Belanda berusaha mundur kembali ke arah Benteng dengan dihujani
tembakan berkali-kali.
Tetapi ada yang diluar
perhitungan, jumlah pasukan Inggris berlipat ganda dan jauh lebih besar
daripada ketika dikomandoi oleh Brigjen Mallaby, bahkan taktiknya berubah sama
sekali.
Memasuki hari kelima
tepatnya pada hari minggu tanggal 5 Januari 1947, baku tembak terus terjadi,
tetapi dihari kelima itu pasukan Belanda yang bertahan di markasnya sedikit
mereda, tetapi bantuan serangan udara dan serangan laut agak gencar menggempur
dan mematahkan pertahanan TRI, terutama di tempat-tempat yang menjadi tempat
pos-pos pertahanan TRI.
Memang tepat apa yang diperkirakan
Pasukan TRI, melihat Pertempuran hari ke Lima tampak serangan darat Tentara
Belanda sudah terlihat melemah, sangat
beda dengan pertempuran hari-hari sebelumnya.
Serangannya tidak gencar lagi dan hanya sekali-sekali terdengar itupun tidak membabi
buta, Tentara Belanda yang bertahan di
Rumah sakit Charitas tampaknya hanya mengandalkan serangan-serangan dari udara
dan serangan dari kapal perangnya yang berada di sungai musi.
Menurut Catatan Abukosim Djayadingrat yang ditulisnya di akhir-akhir hidupnya, Pertempuran Hari Kelima sebetulnya posisi
pasukan TRI cukup menguntungkan. Apalagi pasukan belanda terlihat hanya bisa
bertahan dan melakukan tembakan balasan, sedangkan di sekitar pertahanannya sudah
dipenuhi TRI dan pemuda-pemuda pejuang bersenjata, bahkan bantuan pasukan dari
berapa dearah sudah tiba sejak pertempuran hari kedua berkecamuk.
Tetapi pada akhir Pertempuaran, mendadak seluruh pasukan TRI
dan Pasukan Belanda diperintahkan menghentikan tembak menembak. Perintah itu
langsung dari pemimpi masing-masing pasukan. Kemudian dijelaskan bahwa pada saat berlangsungnya pertempuran,
para Petinggi Meliter masing-masing pasukan dan di hadiri Perintah Sipil kota
Palembang telah melakukan perundingan dengan Meliter Belanda. Dan hasil perundingan salah satunya keluar
perintah, kepada
kedua pasukan TRI dan pasukan Belanda untuk gencatan senjata atau Cease Fire.
Mengingat Pertempuran Lima Hari Lima Malam sudah banyak memakan korban. Dan Meliter Belanda menuntut Pasukan TRI dan laskar
pejuang bersenjata keluar sejauh 20 kilo meter dari kota Palembang, dan Pemerintah sipil masih tetap berada
didalam kota Palembang. Sedangkan Pasukan
Belanda tetap berada di kota Palembang, dan diperbolehkan keluar dari kota
Palembang hanya sejauh 14 Kilometer.
Kota
Palembang setelah Pertempuran Lima Hari Lima Malam
(SUMBER PHOTO :
palembangtempodulu.multiply.com)
Perintah mundur sejauh 20
kilometer dari kota Palembang yang telah disepakati, tetap dilaksanakan oleh Tentara Keamanan Rakyat dan pemuda-pemuda
pejuang tanah air, meskipun TRI sangat
kecewa dengan keputusan itu, Rasa kekecewaan dikarenakan pada saat
berlangsungnya pertempuran lima hari lima malam pasuka TRI Sumatera Selatan dan
diperkuat para laskar-laskar dari dalam dan dari luar kota Palembang sudah
berkumpul menjadi satu, satu kekuatan yang sulit untuk
dilumpuhkan.


Saya bangga atas perjuangan orang tua kami, Alhamdulillah kami anak, cucu, cicit menikmati atas perjuangan mereka, semoga Allah menempatkan mereka yang layak disisi NYA, Aamiin Aamiin Aamiin Ya Rabbal'alamin 😊🙏
BalasHapus