Jumat, 06 Juni 2014

Pertempuran Lima Hari Lima Malam



Sekilas Catatan Abukosim Djayadiningrat
Pasuka Sekutu sudah mendarat di Palembang pada tanggal  12 Oktober 1945 dibawah pimpinan Letnan Kolonel Carmichael,  dengan tugas akan mengambil alih wilayah Palembang dari militer Jepang.  Selain itu mereka juga bertugas mengembalikan tentara Jepang ke negeri asalnya dan melepaskan para tawanan.  Setelah beberapa minggu  di  Palembang, Pasukan sekutu menyerahkan kedudukannya kepada militer Belanda.  Tentu saja melihat keberadaan tentara Berada di kota Palembang  menjadi tanda tanya besar bagi banyak orang. Apakah Belanda yang pernah menjajah Indonesia lebih dari tiga setengah abad masih berambisi ingin menguasai Indonesia kembali?
Di pertengahan bulan september 1946 Abukosim Djayadiningrat yang pada saat itu baru saja kembali dari daerah pendopo dalam tugas memberikan latihan dasar teknik kemiliteran pada 65 pemuda. Selesai melatih selama tiga bulan lalu  ke 65 pemuda tersebut dikirim ke kota Palembang untuk mengikuti latihan lanjutan.  Mereka akan disiapkan untuk  pengamanan di wilayah Pendopo dan sekitarnya. 
Pada tanggal 4 Oktober 1946 Abukosim ditunjuk mengikuti Latihan Kader Polisi Tentara di Pebem Tangga Buntung dan pelatihnya adalah Kapten Ryacudu. Tetapi pada tanggal 25 Desember 1946 seluruh peserta latihan mendadak dihentikan dengan alasan bahwa kondisi Kota Palembang dalam keadaan gentir, dan seluruh yang tergabung dalam kesatuan TRI diperintahkan berkumpul ke kota Palembang.
Sampai di kota Palembang,  Abukosim segera kembali ke asrama Polisi Tentara di 15 Ilir. Dan mendapat perintah dari Lettu R. Winarto untuk segera menuju Masjid Agung.  di sekitar   Mesjid Agung puluhan  anggota TRI  dan dibantu pemuda-pemuda pejuang bersenjata sudah siap siaga. Memang di akhir bulan Desember 1946 kota Palembang dalam kondisi panas, sudah berapa orang jadi korban tentara Belanda. Salah satunya Nungcik  ditembak karena melewati pos tentara Belanda di Benteng. Kejadian itu menimbulkan kemarahan beberapa anggota TRI dan kelompok Pemuda pejuang di kota Palembang,   ditambah lagi  tentara Belanda kompoi dengan mobil jeep sambil melepaskan tembakan beberapa kali ke udara, dan sengaja melintas di garis dermargasi yang telah disepakati. Akhirnya terjadilah tembak menembak yang berlangsung cukup lama, dan termbak menembak tersebut terhenti setelah Pertinggi Meliter TRI dan Petinggi Meliter Belanda melakukan perundingan. Tetapi penghentian tembak-mnembak tidaklah berlangsung lama, karena tentara Belanda kembali melanggar kesepakatan dengan menembak Letnan Satu A. Rivai yang tengah melintas dengan sepeda motornya, beruntung Letnan Satu A. Rivai masih dapat menyelamatkan diri meskipun dalam kondisi terluka.
 Pada tanggal 31 Desember 1946, lagi-lagi Tentara Belanda memancing kemarahan anggota TRI,  mereka kompoi mengendarai mobil melintas di jalan Talang Semu, jalan Jenderal Sudirman, sambil melepaskan tembakan berulang kali. Melihat perbuatan yang kurang terpuji itu,  anggota TRI  jadi berubah  siap menantang perang,  dan terjadilah baku tembak yang kembali menegangkan kota Palembang. Bahkan baku tembak tersebut dikabarkan semakin meluas di beberapa tempat markas pertahanan tentara Belanda.   
Semua anggota TRI bergerak cepat melakukan pengepungan dan serangan ke markas dan petahanan tentara Belanda. Serangan di pokuskan ke arah Rumah Sakit Charitas,  dan sebagian lagi melakukan serangan ke arah Benteng.  Serangan ke arah Benteng diupayakan TRI mencegah agar Pasukan tentara Belanda tidak melaju ke arah Rumah Sakit Charitas.  
Merasa situasi kurang menguntungkan, dimana pada saat itu tentara Belanda dalam  posisi terkepung dan diserang dari beberapa lini oleh pasukan TRI. Akhirnya Tentara Belanda mengadakan pertemuan dengan Panglima Divisi II Kolonel Hasan Kasim, dari hasil pertemuan itu disetujui untuk melaksanakank Ceass Fire ( penghentian tembak menembak).
Pasukan Belanda tidak pernah membayangkan kalau TRI datang dengan jumlah yang besar. Padahal saat itu, penyerangan bukan hanya TRI saja tetapi dibantu para laskar dan pemuda-pemuda pejuang yang siap mati dalam mempertahankan kemerdekaan tanah air.  Walaupun senjata ditangan sangat terbatas dan hasil rampasan dari tentara Jepang, tetapi mereka begitu semangat tanpa takut sedikitpun.
Dengan kejadian-kejadian yang setiap hari selalu memakan jatuh korban  membuat situasi kota Palembang jadi gentir, penghentian tembak menembak atau gencatan senjata yang selalu disepakati oleh kedua belah pihak,  tidak akan menjadi jaminan Meliter Belanda akan mematuhinya.  Oleh sebab itu Petinggi Meliter dan Pejabat Sipil kota Palembang mengadakan pertemuan membahas atas provokasi-provokasi yang dilakuakn oleh Pasukan Belanda, dari hasil pertemuan tersebut maka di perintahkan Semua Pasukan TRI  bertindak membalas serangan-serangan tentara Belanda bahkan semua pertahananya diperintahkan harus digempur habis-habisan. .
Menjelang sore hari Rabbu tanggal 1 Januari 1947, mulai meletuslah pertempuran lima hari lima malam. letusan terdengar bersahut-sahutan disusul dentuman senjata berat terdengar mencekam di  Jantung Kota Palembang.  berubah menjadi pertempuran yang   mendebarkan warga sekitar. Begitu senjata  diletuskan puluhan Pasukan TRI berhamburan keluar dari beberapa tempat persembunyian, tanpa di komando lagi mereka bergerak serentak mengambil posisi masing-masing.  Ada berlari mengambil posisi di sekitar mesjid Agung,  dan posisi ke Rumah Sakit Charitas. Sedangkan tentara Belanda keluar dari markas pertahanannya di Benteng,  dan bergerak maju akan menyerang pasukan TRI yang berada di sekitar Mesjid Agung,  dengan diperkuat kendaraan panser dan tank-nya, sekali-sekali terntara Belanda melemparkan mortil “8” tetapi diantara mortil tersebut terlihat tidak meledak karena jatuh di genangan air.
 Sedangkan di sekitar Rumah sakit Charitas Pasukan Belanda  mendapatakan serangan yang hebat dari Pasukan TRI yang dipimpin Mayor Dani Effendi. Sekalipun di Rumah Sakit Charitas Pasukan TRI agak sulit untuk bergerak maju, sebab merupakan basis yang strategis apalagi berada diatas bukit .  
Sedangkan di wilayah sekitar Mesjid Agung pasukan TRI di hari pertempuran pertama  hanya bisa bertahan dan menyerang. Tembak menembak semakin gencar hingga pukul 20.00 malam. Tetapi Pasukan TRI dibantu laskar dan pemuda pejuang terus melakukan tembakan balasan secara gigih, sehingga penggerakan Pasukan Belanda untuk mengambil alih Mesjid Agung gagal, dan TRI tetap mempertahankan Mesjid Agung. Sedangkan Kantor Pos dan kantor Telkom menjelang sore berhasil dikuasai oleh Pasukan Belanda dan sudah menjadi pertahanannya. Dan Pasukan TRI yang bertahan di kantor Pos dan Kantor Telkom bergerak mundur dan mengambil posisi di sepanjang jalan Kebon Duku dan jalan kepandean.  
Dalam lembaran buku yang ditulis Abukosim Djayadiningrat,  pada saat pertempuran hari pertama Beliau berada di posisi sekitar Masjid Agung, dan pertempuran hari pertama sudah banyak jatuh korban, baik dari pihak TRI, laskar, Pemuda pejuang bersenjata maupun dari pihak tentara Belanda.  Salah satunya angota TRI adalah Kopral Sadikun  dari Divisi Polisi Tentara yang menjadi korban dalam pertempuran di hari pertama.
Pada hari Kedua Pertempuran Lima Hari Lima Malam, tepat pukul 12.00 siang Abukosim bersama anggotanya bergegas meninggalkan mesjid Agung, guna membantu Pasukan TRI yang dipimpin Mayor Dani Effendi yang sudah sejak subuh menyerang Markas Pasukan Belanda di Rumah Sakit Charitas.  Pukul 13.00 siang Abukosim bergabung dengan pasukan TRI yang akan mencoba masuk ke gudang senjata.  Beruntung karena mendapat bantuan dari tentara Jepang yang sudah menyatu dengan TRI, usaha masuk ke gudang sedikit terhambat karena tentara Belanda mencoba menghalangi, tetapi salah satu anggota TRI langsung menembak mati, dan akhirnya puluhan  senjata berhasil diambil dan langsung dibagi-bagikan ke anggota TRI.  Dan Abukosim mendapat bagian lima pucuk senjata lengkap dengan pelurunya serta satu buah pisau sangkur.
Dihari pertempuran ke tiga, Baku tembak Pasukan TRI dan Pasukan Belanda  semakin menjadi. Letusan senjata api terdengar bersahut-sahutan disusul suara dentuman senjata berat terdengar mencekam semakin membuat warga sekitar jadi kawatir,  sementara korban banyak berjatuhan. Dari Divsi Polisi Tentara  Kopral Damiri dan Saidi mengalami luka,  tetapi  langsung dibawa  ke rumah Sakit Dempo.  Setelah mengurus korban ke rumah sakit, Abukosim mendapat perintah Komandan Polisi Tentara Resimen I Divisi II Lettu R. Winarto ke arah gedung kantor Bursumi untuk  membantu TRI yang  berada di lokasi,  guna mencegah supaya tentara Belanda tidak mengarah ke Pasar kuto. Setelah sampai dilokasi dekat jalan menuju ke Pasar Kuto Abukosim dan anggotanya bersembunyi di dekat sungai gedung kantor Bursumi menunggu kedatangan Tentara Belanda.  Tidak lama kemudian munculah tentara Belanda, dan terjadilah Tembak menembak,  dan  tentara Belanda berhasil  dipaksa mundur.  Tetapi tembak menembak itu  memakan korban lima orang rakyat biasa yang kebetulan terkena peluru nyasar, dan satunya Sersan Umar Hasan dari Polisi Tentara, tetapi Sersan Umar Hasan selamat karena hanya lengan kanannya yang luka dan langsung dibawa ke rumah bidan yang ada di 13 ilir.   
Memasuki hari ke-empat Pertempuran Lima  Hari Lima Malalm, baku tembak TRI   terus terjadi bahkan semakin hebat dari hari sebelumnya. Bantuan TKR dan pemuda pejuang yang datang dari luar daerah semakin memperkuat TRI dalam melakukan peryerangan, sehingga semakin melemahkan pertahanan tentara Belanda, baik pertahanan tentara Belanda di Benteng maupun di markas pertahanan di rumah Sakit Charitas tempat Letkol Van Back.  
Pada pertempuran hari ke empat, serangan Tentara Belanda sudah terlihat melemah, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.  Serangannya tidak begitu membabi buta, sepertinya tentara Belanda yang bertahan di Rumah Sakit Charitas sepertinya mulai mengalami masalah dengan amunisi dan logistik akibat serangan yang sering dilakukannya secara membabi buta.
Karena kondisi rumah sakit Charitas sudah terkepung, maka tentara belanda yang berada di Benteng berupaya membantu pasukan yang berada di rumah sakit Caharitas, mereka keluar dengan kendaraan lapis baja dan beriringan dengan beberapa kendaraan  truk berisi puluhan tentara Belanda. Mereka melaju sembari melepaskan tembakan secara membabi buta.
Pasukan TRI dan pemuda pejuang bersenjata segera melakukan pencegahan, bahkan Pasukan TRI  bergerak cepat melakukan tembakan ke arah tentara Belanda dengan jarak dekat, dan sebagian lagi  melemparkan bom melotov,  lemparan botol tersebut tepat mengarah ke dalam mobil lapis baja.  Akibatnya, beberapa orang tentara belanda melompat menyelamatkan diri, lalu  beberapa detik kemudian terlihat api membesar dan membakar kendaran milik tentara Belanda, dan disusul suara ledakan terdengar keras.
Pasukan Belanda masih terus mencoba menuju rumah sakit Charitas, tetapi lagi-lagi TRI dan seluruh badan pejuang kita yang berada di posisi depan telah bersatu padu melakukan pencegahan dengan memasang beberapa potong kayu dan kawat berduri ditengah jalan. Seluruh pejuang kita tidak memberikan kesempatan pasukan Belanda untuk keluar dari sarangnya. Karena jalan arah menujun rumah sakit Charitas sudah tidak bisa dilalui dan dibeberapa tempat sudah dikepung pasukan TRI, akhirnya tentara Belanda berusaha mundur kembali ke arah Benteng dengan dihujani tembakan berkali-kali.

Tetapi ada yang diluar perhitungan, jumlah pasukan Inggris berlipat ganda dan jauh lebih besar daripada ketika dikomandoi oleh Brigjen Mallaby, bahkan taktiknya berubah sama sekali.

Memasuki hari kelima tepatnya pada hari minggu tanggal 5 Januari 1947, baku tembak terus terjadi, tetapi dihari kelima itu pasukan Belanda yang bertahan di markasnya sedikit mereda, tetapi bantuan serangan udara dan serangan laut agak gencar menggempur dan mematahkan pertahanan TRI, terutama di tempat-tempat yang menjadi tempat pos-pos pertahanan TRI.
Memang tepat apa yang diperkirakan Pasukan TRI, melihat Pertempuran hari ke Lima tampak serangan darat Tentara Belanda sudah terlihat melemah,  sangat beda dengan pertempuran hari-hari sebelumnya.  Serangannya tidak gencar lagi dan hanya  sekali-sekali terdengar itupun tidak membabi buta,  Tentara Belanda yang bertahan di Rumah sakit Charitas tampaknya hanya mengandalkan serangan-serangan dari udara dan serangan dari kapal perangnya yang berada di sungai musi.
Menurut Catatan Abukosim Djayadingrat yang ditulisnya di akhir-akhir hidupnya, Pertempuran Hari Kelima sebetulnya posisi pasukan TRI cukup menguntungkan. Apalagi pasukan belanda terlihat hanya bisa bertahan dan melakukan tembakan balasan, sedangkan di sekitar pertahanannya sudah dipenuhi TRI dan pemuda-pemuda pejuang bersenjata, bahkan bantuan pasukan dari berapa dearah sudah tiba sejak pertempuran hari kedua berkecamuk.   
Tetapi pada akhir Pertempuaran, mendadak seluruh pasukan TRI dan Pasukan Belanda diperintahkan menghentikan tembak menembak. Perintah itu langsung dari pemimpi masing-masing pasukan. Kemudian dijelaskan  bahwa pada saat berlangsungnya pertempuran, para Petinggi Meliter masing-masing pasukan dan di hadiri Perintah Sipil kota Palembang telah melakukan perundingan dengan Meliter Belanda. Dan hasil  perundingan salah satunya keluar perintah, kepada kedua pasukan TRI dan pasukan Belanda untuk gencatan senjata atau Cease Fire.  Mengingat Pertempuran Lima Hari Lima Malam sudah banyak memakan korban.  Dan Meliter Belanda menuntut Pasukan TRI dan laskar pejuang bersenjata keluar sejauh 20 kilo meter dari kota Palembang,  dan Pemerintah sipil masih tetap berada didalam kota Palembang.  Sedangkan Pasukan Belanda tetap berada di kota Palembang, dan diperbolehkan keluar dari kota Palembang hanya sejauh 14 Kilometer.
 
 

Kota Palembang setelah Pertempuran Lima Hari Lima Malam

  (SUMBER PHOTO : palembangtempodulu.multiply.com)

Perintah mundur sejauh 20 kilometer dari kota Palembang yang telah disepakati, tetap dilaksanakan oleh  Tentara Keamanan Rakyat dan pemuda-pemuda pejuang tanah air, meskipun TRI sangat  kecewa dengan keputusan itu, Rasa kekecewaan dikarenakan pada saat berlangsungnya pertempuran lima hari lima malam pasuka TRI Sumatera Selatan dan diperkuat para laskar-laskar dari dalam dan dari luar kota Palembang sudah berkumpul menjadi satu, satu kekuatan yang sulit untuk dilumpuhkan. 


1 komentar:

  1. Saya bangga atas perjuangan orang tua kami, Alhamdulillah kami anak, cucu, cicit menikmati atas perjuangan mereka, semoga Allah menempatkan mereka yang layak disisi NYA, Aamiin Aamiin Aamiin Ya Rabbal'alamin 😊🙏

    BalasHapus